Melatih si Pemalu, Ok Bersosialisasi

sumber : hallosehat.com



Melatih si Pemalu agar Mampu Bersosialisasi



Momok besar tahun ajaran baru bagi orangtua yang memiliki anak yang pemalu adalah memikirkan bagaimana mereka mampu bersosialisasi. Tak jarang orangtua menjadi sedih. Niat hati ingin membantu, beberapa orangtua malah membuat kepercayaan diri anak semakin turun.

Tidak ada yang salah memiliki anak yang pemalu. Bagi saya, setiap anak memiliki kepercayaan diri masing-masing sesuai dengan potensinya. Percaya diri bukan hanya mereka yang berani unjuk kebolehan di depan panggung. Anak yang berani menunjukkan siapa dirinya tanpa harus meniru orang lain adalah anak yang percaya diri juga lho.

Walaupun kelihatannya dia anak yang suka diem di pojokan, kurang mampu dekat dengan orang baru, kurang mampu mengungkapkan pendapatnya, kurang percaya diri, TAPI anak seperti ini adalah pengamat yang baik lho. Mereka biasanya memiliki kemampuan mengobservasi yang lebih baik daripada anak lain.

Tapi yang namanya kemampuan sosialisasi wajib dimiliki oleh setiap anak. Kita sebagai orangtua bisa membantu dan mendukungnya untuk berani bersosialisasi. Bagaimana caranya Bubu?

1.       Terima dia apa adanya

Memang setiap orangtua ingin anaknya mampu bersosialisasi seperti anak lain. Tapi menuntut anak agar sama seperti anak lain justru membuatnya tertekan dan tidak berharga. Malah bisa jadi anak merasa orangtuanya lebih menyayangi anak lain daripada dirinya sendiri.



Misalnya kita ngomong “Ayo maju, jangan malu-malu gitu. Tuh yang lain maju lho.”



Oke, mungkin niatnya memotivasi anak, kan sayang sama anak. Tapi sebaiknya gunakan kata-kata positif dalam memotivasinya dan jangan dibandingkan sama anak lain. Kita aja sebel kan kalo paksu bercerita tentang wanita lain yang lebih hebat. Rasanya pengen cabutin bulu kaki doi aja kalo kesel, hahaha.



Begitu juga yang dirasakan oleh anak. Dia ingin dicintai apa adanya dia. Coba ganti dengan kata-kata “Kalau kamu sudah siap, Bunda antar untuk maju ke depan ya.” Nah, lebih adem kan rasanya?

==========

2.       Berempati dengan perasaan anak

Kadang gregetan ya sama anak kita yang belum bisa melakukan sesuatu. Hey buuuuuk paaaak, ingat usia anak berapa? Mereka masih belajar, kalau belajar salah ya wajar. Tugas kitalah yang membantunya ke jalur yang benar.



Hindari kata-kata “Gitu aja kok malu.” “Gitu aja kok nangis.” “Gitu aja kok baper.” “Gitu aja kok takut.”



Nggak boleh ya. Kesannya jadi menyalahkan anak, justru dia merasa semakin tidak baik-baik saja lho.



Berempatilah dengan apa yang dia rasakan saat itu. “Wah, jadi kamu takut ya waktu Bu Guru meminta kamu maju. Bunda dulu waktu TK juga takut diminta maju sama Bu Guru.”



Nah pada tahap ini, anak akan merasa tenang, merasa baik-baik saja. Perasaan aman ini akan meningkatkan kepercayaan dirinya.

==========

3.       Jangan menyebut anak pemalu

“Kamu pemalu sih, jadi nggak ada yang mau main sama kamu kan?”



Hadeeeeh. Sebenarnya anak sudah merasa nggak nyaman dengan kondisinya lho. Jadi tidak perlu diperburuk dengan penegasan kekurangannya yang justru membuat dia semakin rendah diri. Kasihan lho.



Ajarkan anak untuk melihat pada hal positifnya dan latih dia untuk mencari solusi, bukan Cuma nyari-nyari kesalahan aja. “Lain kali, kalau kamu sudah mulai mengenal tempat bermain kamu, kamu akan lebih mudah mengajak teman-teman untuk bermain bersama.”



Atau ketika dia sulit berteman dengan tetangga baru, bisa kita katakan padanya, “Nanti kalau kamu dan dia sudah saling mengenal, kalian pasti bisa bermain bersama.”



Gimana rasanya. Merasa memiliki harapan dan semangat kan?

==========

4.       Jadilah teladan yang baik

Nah ini yang penting. Teladan. Motivasi terbesar dari seorang anak adalah meniru orang dewasa. Nah orang dewasa terdekat anak kita kan ya kita sendiri nih. Kalau begitu, jadilah orang yang percaya diri.



Misal ke taman bermain, sapalah orang-orang disana, kemudian minta anak untuk meniru. Lakukan hal ini pada orang yang sudah kita kenal maupun baru dikenal ya. Tunjukkan pada anak bahwa orangtuanya adalah pribadi yang percaya diri dan suka berteman.

==========

5.       Latihan

Punya cermin besar di rumah? Ajak anak mengobrol dengan dirinya sendiri di cermin. Biarkan dia melihat bagaimana raut wajahnya ketika berbicara. Dia akan membandingkan raut wajahnya dengan raut wajah kita. Jadi pastikan kita memasang raut wajah yang ramah penuh senyum ya.



Selain itu, kita bisa meminta anak bermain drama boneka untuk melatih kemampuan berkomunikasinya. Siapkan panggung kecil, Ayah dan Bunda sebagai penonton interaktif. Minta anak bercerita di panggung bersama boneka-boneka. Bisa juga bersama mobil-mobilannya. Seadanya aja, karena fokus utamanya membiasakan anak untuk berbicara.



Akan lebih bagus lagi jika drama itu direkam menggunakan kamera yang bisa dia lihat setelah pertunjukan berakhir. Selain anak merasa dihargai, dia bisa mengevaluasi dirinya sendiri melalui video tersebut.



5 tips sederhana untuk melatih anak bersosialisasi. Siap praktek?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar