![]() |
| sumber : style.tribunnews.com |
Islam adalah agama yg sangat sempurna. Kesempurnaan itu salah satunya dibuktikan dengan nilai dan prinsip maupun ajaran dan hukum yg ditetapkan Alloh dalam mengatur kehidupan ummatnya. Hal tersebut dimulai: hubungan manusia dengan Alloh ('ibadah), kehidupan manusia dengan orang lain sebagai makhluk sosial (muamalah), kehidupan manusia dengan alam sekitar sampai kehidupan manusia dengan dirinya sendiri (radha'ah).
Salah satu yg diatur dlm Islam adalah menyusui anak. Menyusui merupakah salah satu kodrat perempuan, selain haid, mengandung dan melahirkan. Semu perempuan normal tentunya memiliki dan merasakan kodrat ini, bahkan berawal dari inilah berbagai macam rukhshah, perlindungan, cinta dan kasih sayang kepada perempuan terbentuk. Termasuk jiwa kelembutan perempuan terhadap anaknya.
Alloh 'Azza wa jalla meletakkan kehormatan dan kemuliaan kepada seorang perempuan di dalam karuniaNya yaitu organ reproduksi perempuan. Pantas saja, Alloh menjanjikan memberi kemuliaan dan surga bagi perempuan yg mampu menjaga reproduksinya. Alloh juga memberikan kedua hal tersebut kepada perempuan yg mempergunakan karunia Alloh terhadap dirinya dengan baik.
Termasuk bagaimana ia memberikan ASI atau menyusui anaknya dengan ikhlas. Menyusui memang melelahkan serta membutuhkan energi yang besar seperti halnya rasa sakit saat haid, mengandung dan melahirkan. Maka seluruh beban diri yang ada perempuan ini, Allah SWT. gantikan dengan pahala dan rahmatnya. Disinilah jawaban menyusui menjadi sesuatu yang penting dalam Islam.
1. Perintah menyusui dalam Qur’an
Ada beberapa ayat dalam Al- Qur’an yang memerintahkan kepada kaum perempuan agar menyusui anaknya, seperti:
a. Q.S Al- Baqarah : 233
“Para ibu hendaknya menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi orang yang ingin menyempurnakan penyusuannya. Dan kewajiban ayah, memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan .
Pelajaran dari ayat ini menurut buku tafsir Al- Qur’an syaiidh Muhammad Shaleh Al Utsaimin disebutkan bahwa Allah Maha Penyayang bagi seluruh makhluknya, sampai memerintahkan seorang perempuan untuk menyusui anaknya walaupun itu merupakan kodrat. Artinya, rahmat Allah lebih luas daripada kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Tentu Allah jauh lebih tahu ada manfaat luar biasa dari menyusui.
b. Q.S Lukman: 14
“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”
c. Q.S Al-Ahqaf : 15
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tua (ibu bapanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan.”
d. Q.S Al-Qashash : 12-13
“Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara perempuan Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu keluarga yang akan me- meliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?” Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya".
Yang harus kita garis bawahi adalah begitu pentingnya penyempurnaan menyusui bagi anak-anak kita. Hadist diperbolehkannya ibu menyusui meninggalkan puasa dan mengganti di hari yang lain. Salah satu ajaran Rasul yang berisi rukshah (keringanan) dalam syariat bagi para ibu yang sedang menyusui untuk diperbolehkan meninggalkan puasa dan mengganti pada hari yang lain adalah bentuk penghargaan serta perintah yang menunjukkan betapa tingginya manfaat dari pemberian Air Susu Ibu (ASI) bagi seorang ibu kepada anaknya, sebagaimana hal tersebut juga ada di dalam Al Qur'an.
Hikmah Menyusui Dalam Islam
Berikut beberapa hikmah menyusui menurut syari’at Islam, diantaranya:
a. Asi menumbuhkan tulang dan gigi
Ibnu Mas’ud ra berkata: “Tidaklah dikatakan persusuan kecuali apa-apa yang menguatkan tulang dan menumbuhkan daging.” (HR. Ahmad Dawud)
Hal tersebut selaras dengan penelitian kesehatan yang menyebutkan bakteri laktosa pada ASI bermanfaat meningkatkan penyerapan kalsium. Kalsium inilah yang sangat diperlukan untuk membentuk tulang dan gigi anak. Selain itu, Asi juga mengandung vitamin D yang turut mendukung pertumbuhan tulang. Asi juga mengandung selenium tinggi yang memiliki manfaat mencegah karies gigi, sebaliknya asam yang ada pada susu formula dapat merusak gigi.
b. Asi memenuhi zat gizi yang dibutuhkan anak
Manusia minum air susu manusia adalah hal yang terbaik. Sapi minum air susu sapi. Ini merupakan prinsip yang tak dapat diubah namun entah mulai kapan bermunculan paradigma yang berubah. Berbagai macam propaganda di berbagai media akhirnya memunculkan dorongan yang membuat masyarakat memiliki pemikiran yang salah. Banyak sekali para orang tua takut jika tidak bisa menambah ASI dengan susu formula. Coba kita perhatikan ternyata tiap pabrik susu bubuk dengan segala upaya berusaha sebisa mungkin kualitas susu bubuk yang diproduksi mirip dengan kualitas ASI. Disini kita bisa melihat bahwa jelas sekali ASI adalah pilihan yang tepat sebagaimana Allah telah memberikannya kepada para ibu secara gratis untuk diberikan kepada anaknya. Bahkan, jika tidak ada masalah khusus, semakin sering seorang ibu memberikan ASI kepada anak maka akan semakin bertambah banyak ASI yang ada pada payudara sang ibu. Jadi, para ibu tidak perlu kuatir kekurangan meski diberikan kepada anak kembar sekalipun.
Tingkat kesegaran ASI juga selalu prima dan bebas bakteri serta mudah dicerna. ASI juga bisa mengikuti pertumbuhan bayi dengan otomatis merubah komposisinya agar dapat menyesuaikan kebutuhan setiap tahap masa perkembangan bayi. Uji klinis telah membuktikan bahwa bayi yang dibesarkan dengan ASI memiliki IQ (Intellegencia Quotient) lebih tinggi dibandingkan bayi yang dibesarkan tanpa ASI.
Hasil penelitian dalam jurnal Genome Biology dari Biomed Central 2012 menuliskan bahwa ada perbedaan menonjol dalam kandungan flora jasad renik di dalam perut antara bayi yang disusui oleh ibunya dengan bayi yang diberikan susu formula. Perbedaan ini berlanjut dengan perbedaan ekspresi gen-gen yang terkait dengan kekebalan tubuh bayi.
C. Menyusui itu wujud rasa syukur kepada Allah Swt.
Anak adalah anugerah yang diberikan oleh Allah Swt. Anugerah yang membuat sepasang suami istri semakin lengkap kebahagiaan rumah tangganya. Kebahagiaan memiliki anak tidak bisa dinilai dengan harta benda, karena banyak yang tidak diberi anak oleh Allah meski memiliki harta benda yang banyak dan dalam kondisi sehat sekalipun. Inilah mengapa memiliki anak adalah rezeki. Maka sudah sepantasnya ketika para pasangan suami istri bersyukur atas rizki itu. Diantara bentuk rasa syukur itu adalah dengan memperhatikan hak-hak anak. Salah satu hak anak adalah memberikan ASI atau menyusui kepada anak-anak kita. Allah Swt. telah menciptakan ASI dengan sempurna komposisi gizi yang terkandung dalam ASI, itulah mengapa Allah memerintahkan untuk menyusui sang bayi sampai 2 tahun jika ingin menyempurnakan penyusuannya karena Allah Maha Tahu atas segala sesuatu.
D. Menyusui menjadikan perempuan menyadari anak adalah amanah.
Dalam Al- Qur’an surat An-Nur ayat 11 Allah berfirman, “Allah mewasiatkan kepada kalian tentang anak-anak kalian”. Disinilah pentingnya menyempurnakan pemahaman bahwa anak adalah amanah. Dengan menyusui maka Allah menginginkan agar para orang tua senantiasa ingat bahwa anak adalah sesuatu yang harus dijaga. Disinilah Allah menginginkan agar sesibuk apapun perempuan atau mau berkarir apapun, seorang perempuan dia adalah tetap seorang ibu yang sangat dibutuhkan oleh anak-anaknya. Perintah menyusui mengandung makna agar seorang perempuan mengingat rumah dan tugas-tugasnya karena kodrat seorang perempuan adalah dirumah. Berbeda dengan laki-laki yang memang ditakdirkan untuk memikul tanggungjawab menafkahi keluarga. Penegasan tentang hal ini Allah menjelaskan dalam QS. Al Ahzab 33, “Tetaplah kalian (para wanita) di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias sebagaimana orang-orang jahiliyah dahulu berhias".
Dalam hadis Rasulullah juga menambahkan, “Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah Saw.. bersabda, “Ketahuilah! Setiap dari kalian telah diberi amanah, maka setiap kalian akan ditanya tentang amanahnya. Seorang amir (pemimpin suatu negeri) yang memimpin manusia adalah orang yang diberi amanah dan ia akan ditanya tentang mereka. Dan seorang laki-laki adalah orang yang diberi amanah terhadap keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Dan seorang wanita adalah orang yang diberi amanah terhadap rumah dan anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka. Dan seorang budak adalah orang yang diberi amanah terhadap harta majikannya dan ia akan ditanya tentangnya. Ketahuilah setiap dari kalian akan ditanya tentang amanahnya. (HR. Bukhori

Tidak ada komentar:
Posting Komentar