![]() |
| ekonomi.kompas.com |
👉Dalam Oxford Dictionary, kata temper dan tantrum berasal dari bahasa Inggirs yang berarti sebagai berikut :
1. Temper : fact becoming angry very easily, short periode of feeling very angry
2. Tantrum : out burst of bad temper especially by a child.
Dalam beberapa literasi, tantrum dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Letupan amarah anak disaat menunnjukan kemandirian dengan sikap negatifnya
2. Ledakan emosi yang biasanya dikaitkan kepada anak atau orang dalam kesulitan emosional. Yang ditandai dengan sikap keras kepala, menjerit, berteriak, pembangkangan, mengomel, marah-marah. Sebagai resistensi terhadap upaya untuk menenangkan.
Lalu bagaimanakah cara mengatasinya?
udahkah kita membantu anak mengurangi potensi Tantrum? 😊 (Age 1 - 4).
Tantrum pada anak memang wajar, tapi bukan berarti dipelihara. Seiring dengan bertambahnya kematangan anak, insyaAllah tantrum akan hilang, berganti dengan komunikasi dan pengelolaan emosi yang baik. 😊 tapiii... ya harus ada usaha juga...
Bagaimana cara kita bisa membantu anak mengurangi tantrum?
Berrikut, tulisan sahabat yang kaya manfaat...💓
1. 😊 Build up a routine
Salah satu pembelajaran yang saya dapat dr sesi counceling kala di Melbourne dulu, para councelor mengarahkan untuk membuat jadwal rutin bagi anak.
Salah satu penyebab tantrum adalah frustasi terhadap berbagai keadaan yang tidak siap mereka terima. Dengan membuat rutinitas harian, kita setidaknya membantu anak2 untuk bisa memprediksi apa yang terjadi berikutnya. Misal, pagi hari bangun tidur jadwalnya pergi ke pasar, lalu mandi, lalu nereka main mandiri karena ibunya masak, lalu mereka main sama ortu, lalu mereka makan siang, dst.
Tidak hanya dibuat, tapi juga disampaikan. Terutama ketika kita baru pertama kali membuat. 😊 Kalau anak sudah pintar nego, boleh juga kita sosialisasikan rencana kita, dan menampung masukan dr dia.
Misal, untuk mengawali, dr pagi hari kita sudah sampaikan apa saja kegiatan hari ini. Sampaikan juga kegiatan malam menjelang tidur. Contoh, sebelum mereka diminta tidur, kita pun mempersiapkan hints, seperti bersih2 diri, membaca buku, memakai lotion, dst. Dengan berulang, alhamdulillah pengalaman bersama anak2, di malam hari, permainan yg mereka minta adalah "read a book please", sampai mereka terlela, karena sudah paham bahwa jam segitu bukan lagi waktunya untuk yang lain2.
Kalau ada agenda di luar rutinitas, bisa coba sampaikan jauh2 hari, agar mereka bisa prepare. Atau bajkan mereka akan excited menunggu hari tersebut. Misal, besok akan ke luar rumah agak jauh, dan bla bla, sampaikan minimal satu hari sebelum, atau di malam hari sebelum, setidaknya mereka bisa mempersiapkan mental.
2. 😊 Memperhatikan kebutuhan jiwa dan raga.
Jiwanya memerlukan kasih sayang dan perhatian yang cukup. Raganya menerlukan asupan gizi yang baik, tepat waktu, dan istirahat yang cukup. Begitu juga dengan kebutuhan eksplorasi, sudah cukupkah waktunya bermain outdoor, melatih motorik, menggambar (bagi yg suka), dan perkara belajar lainnya? Perkara remeh dan sangat biasa memang, tapi ternyata seringkali saya temukan kasus yang mengarah ke sana. Dan kasus kurangnya asupan fisik dan psikis, bisa menimpa ibu manapun, baik ibu bekerja, ibu sekolah, maupun ibu rumah tangga. Karena yang diperlukan adalah kombinasi dari quantity dan quality.
3. 😊 Mengelola Stress Orangtua.
Dunia pernikahan beda dengan pacaran. Pernikahan datang dengan seabreg tanggung jawab sebagai ujian menuju surga. Sementara pacaran tanpa ikatan, tanpa beban. Nggak cocok, bubar saja. Kalau nikah, perjanjiannya sampai mengguncangkan Arsy Allah.
Stress bisa saja muncul, maka kemampuan mengelola stres agar jiwa orang tua tetap dalam batas sehat dan dapat berpikir jernih. Orang tua yang tidak mampu mengelola stress, akan cenderung melampiaskan masalahnya pada anak, sehingga diajak main mungkin nggak nyambung, apalagi ngobrol, apalagi untuk bisa inisiatif melihat sikon dikala anak memerukan perhatian.
4. 😊 Konsisten dengan aturan.
Kalau sejak awal, dengan pikiran sadar, kita tidak bisa mengiyakan permintaan anak, so we need to be consistent to the rule.
Kalau jatah es krim seminggu sekali, stick with it. Kalau tidak boleh makan permen tertentu, stick with it. 😊 Dan berbagai aturan prinsip lainnya dalam keluarga masing-masing..
Ketika anak tantrum dan orangtua memberikan REWARD untuk menghentikan tantrum, maka anak akan belajar bahwa menangis adalah cara ampuh untuk mendapatkan sesuatu. Apalagi di tempat umum, ketika ortu cenderung diliputi berbagai tatap pasang mata, dan kalau mengalah memilih jalan pintas dengan melanggar aturan yang dibuat. Misal, anak ingin beli mainan, padahal jadwal membeli mainan di tempat tersebut sudah lewat dan sudah tidak ada jatah untuk itu. Anak merengek, guling2, mau dibelikan atau nggak? hehe... Kalau mau stick tp the rule, berarti tetap nggak dibeliin. Bukan karena gak ada uang, tapi untuk menekankan bahwa nggak semua hal yang anak mau harus didapat. 😊 Tentunya, penegasan tersebut dengan upaya untuk menenangkan, menyayangi, dan memberi pengertian pada saat yang tepat.
5. 😊 ow ow.. ada yang lupa... Adakah anak2 terlslu banyak ter ekspose gadget? ortunya sendiri menyadari anaknya sulit lepas dari gagdet, ups...
Mungkin bisa dievaluasi, barangkali anak2 terlalu banyak mengkonsumsi yang satu itu. Sehingga energinya yang besar tidak tercurahkan dengan aktivitas bergerak atau belajar langsung yang mengasah otak dan kreatifitas.
Kelamaan termanjakan dengan gadget juga menbiasakan anak selalu terhibur tanpa harus usaha, membuat bingung jetika gadget tidak ada. Belum biasa untuk mengkreasikan berbagai barang yang ada. Terlepas pro dan kontra penggunaaan gadget, saya rasa para ortu akan tahu kapan anak2nya ternyata "sudah sulit lepas dari gadget". Ketika mereka Bt atau bosan.. atau tidak tahu mau ngapain.. jadilaah... eng ing eng.. nangis yang nggak jelas dan tiada henti.. Jadi.. silahkan dikembalikan lagi kepada keluarga masing-masing... 😊 Bagaimana pengaturan gadget di rumah...
6. 😊 Finally, have we asked Allah?
Sudahkah kita meminta kepada Allah, agar Allah melapangkan hati kita, melapangkan hati anak2 kita?
Jika sudah, sejauh mana kita berusaha memenuhi perintahNya, mendekat padaNya, yang Maha Membolak balikkan hati manusia?
😊 Buat saya, dari keseluruhan PR2, justru poin terakhir yang kayaknya masih paling banyak kekurangan. Padahal, Allah lah yang memegang seluruh kendali kehidupan. Allah lah yang mampu mendewasakan, menganugerahkan taufiq, memasukkan iman, kepada anak-anak kita.
Allahualam bishawab. 😊 Ini hanyalah sedikit catatan hati pengingat diri... Semoga bermanfaat dan berkah.. dan semoga kita semua istiqamah dalam memberikan yang terbaik bagi anak-anak kita. Allahumma Aaamiiin.
Karina Hakman

Tidak ada komentar:
Posting Komentar